REPRODUKSI MANUSIA

Posted: Desember 31, 2012 in Bahan Kuliahku

Alat Reproduksi pada pria maupun wanita pada dasarnya sama dengan alat reproduksi pada mamalia lain. Pria menghasilkan gamet jantan atau spermatozoa yang berukuran sangat kecil dan berbentuk menyerupai berudu, sedangkan wanita menghasilkan sel telur (ovum) yang dibentuk di dalam ovarium.

Di dalam ovarium janin sudah terkandung sel pemula atau oogonium. Oogonium akan berkembang menjadi oosit primer. Saat bayi dilahirkan oosit primer dalam fase profase pada pembelahan meiosis. Oosit primer kemudian mengalami masa istirahat hingga masa pubertas.

Pada masa pubertas terjadilah oogenesis. Oosit primer membelah secara meiosis, menghasilkan 2 sel yang berbeda ukurannya. Sel yang lebih kecil, yaitu badan polar pertama membelah lebih lambat, membentuk 2 badan polar. Sel yang lebih besar yaitu oosit sekunder, melakukan pembelahan meiosis kedua yang menghasilkan ovum tunggal dan badan polar kedua. Ovum berukuran lebih besar dari badan polar kedua.

Pengaruh Hormon dalam Oogenesis

Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon FSH yang merangsang pertumbuhan sel-sel folikel di sekeliling ovum. Ovum yang matang diselubungi oleh sel-sel folikel yang disebut Folikel Graaf, Folikel Graaf menghasilkan hormon estrogen. Hormon estrogen merangsang kelenjar hipofisis untuk mensekresikan hormon LH, hormon LH merangsang terjadinya ovulasi. Selanjutnya folikel yang sudah kosong dirangsang oleh LH untuk menjadi badan kuning atau korpus luteum. Korpus luteum kemudian menghasilkan hormon progresteron yang berfungsi menghambat sekresi DSH dan LH. Kemudian korpus luteum mengecil dan hilang, sehingga aklurnya tidak membentuk progesteron lagi, akibatnya FSH mulai terbentuk kembali, proses oogenesis mulai kembali.

Catatan : Pada laki-laki spermatogenesis terjadi seumur hidup, dan pelepasan spermatozoa dapat terjadi setiap saat. Pada wanita, ovulasi hanya berlangsung sampai umur sekitar 45 – 5O tahun. Seorang wanita hanya mampu menghasilkan paling banyak 400 ovum selama hidupnya, meskipun ovarium seorang bayi perempuan sejak lahir sudah berisi 500 ribu sampai 1 juta oosit primer.Setiap bulan wanita melepaskan satu sel telur dari salah satu ovariumnya. Bila sel telur ini tidak mengalami pembuahan maka akan terjadi perdarahan (menstraasi). Menstruasi terjadi secara perfodik satu bulan sekali.

Saat wanita tidak mampu lagi melepaskan ovum karena sudah habis tereduksi, menstruasi pun menjadi tidak teratur lagi, sampai kemudian terhenti sama sekali. Masa ini disebut menopause

Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus estrus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus estrus, jika tidak terjadi pembuahan, endomentrium akan direabsorbsi oleh tubuh.

Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut :

Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus.

Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali.

Menstruasi atau haid adalah perubahan fisiologi dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon. Periode ini penting dalam reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia pubertas dan menopause. Selain manusia, periode ini hanya terjadi pada primata-primata besar, sementara binatang-binatang menyusui lainnya, yang disebut sebagai siklus estrusi.

Pada wanita siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari, walaupun hal ini berlaku umum tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi yang sama, terkadang siklus terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari.

Peristiwa fertilisasi terjadi di saat spermatozoa membuahi ovum di tuba fallopii, terjadilah zigot, zigot membelah secara mitosis menjadi dua, empat, delapan, enam belas dan seterusnya. Pada saat 32 sel disebut morula, di dalam morula terdapat rongga yang disebut blastosoel yang berisi cairan yang dikeluokan oleh tuba fallopii, bentuk ini kemudian disebut blastosit. Lapisan terluar blastosit disebut trofoblas merupakan dinding blastosit yang berfungsi untuk menyerap makanan dan merupakan calon tembuni atau ari-ari (plasenta), sedangkan masa di dalamnya disebut simpul embrio (embrionik knot) merupakan calon janin. Blastosit ini bergerak menuju uterus untuk mengadakan implantasi (perlekatan dengan dinding uterus).

Pada hari ke-4 atau ke-5 sesudah ovulasi, blastosit sampai di rongga uterus, hormon progesteron merangsang pertumbuhan uterus, dindingnya tebal, lunak, banyak mengandung pembuluh darah, serta mengeluarkan sekret seperti air susu (uterin milk) sebagai makanan embrio.

Enam hari setelah fertilisasi, trofoblas menempel pada dinding uterus (melakukan implantasi) dan melepaskan hormon korionik gonadotropin. Hormon ini melindungi kehamilan dengan cara menstrimulasi produksi hormon estrogen dan progesteron sehingga mencegah terjadinya menstruasi. Trofoblas kemudian menebal beberapa lapis, permukaannya berjonjot dengan tujuan memperluas daerah penyerapan makanan. Embrio telah kuat menempel setelah hari ke-12 dari fertilisasi.

1. Pembuatan Lapisan Lembaga Setelah hari ke-12, tampak dua lapisan jaringan di sebelah luar disebut ektoderm, di sebelah dalam endoderm. Endoderm tumbuh ke dalam blastosoel membentuk bulatan penuh. Dengan demikian terbentuklah usus primitif dan kemudian terbentuk Pula kantung kuning telur (Yolk Sac) yang membungkus kuning telur. Pada manusia, kantung ini tidak berguna, maka tidak berkembang, tetapi kantung ini sangat berguna pada hewan ovipar (bertelur), karena kantung ini berisi persediaan makanan bagi embrio.

Di antara lapisan ektoderm dan endoderm terbentuk lapisan mesoderm. Ketiga lapisan tersebut merupakan lapisan lembaga (Germ Layer). Semua bagian tubuh manusia akan dibentuk oleh ketiga lapisan tersebut. Ektoderm akan membentuk epidermis kulit dan sistem saraf, endoderm membentuk saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan, mesoderm membentuk antara lain rangka, otot, sistem peredaran darah, sistem ekskresi dan sistem reproduksi.

 

2. Membran (Lapisan Embrio)Terdapat 4 macam membran embrio, yaitu :

a. Kantung Kuning Telur (Yolk Sac)
Kantung kuning telur merupakan pelebaran endodermis berisi persediaan makanan bagi hewan ovipar, pada manusia hanya terdapat sedikit dan tidak berguna.
b. Amnion

Amnion merupakan kantung yang berisi cairan tempat embrio mengapung, gunanya melindungi janin dari tekanan atau benturan.
c. Alantois 

Pada alantois berfungsi sebagai organ respirasi dan pembuangan sisa metabolisme. Pada mammalia dan manusia, alantois merupakan kantung kecil dan masuk ke dalam jaringan tangkai badan, yaitu bagian yang akan berkembang menjadi tall pusat.

d. KorionKorion adalah dinding berjonjot yang terdiri dari mesoderm dan trofoblas. Jonjot korion menghilang pada hari ke-28, kecuali pada bagian tangkai badan, pada tangkai badan jonjot trofoblas masuk ke dalam daerah dinding uterus membentuk ari-ari (plasenta). Setelah semua membran dan plasenta terbentuk maka embrio disebut janin/fetus.

 

3. Plasenta atau Ari-AriPlasenta atau ari-ari berbentuk seperti cakram dengn garis tengah 20 cm, dan tebal 2,5 cm. Ukuran ini dicapai pada waktu bayi akan lahir tetapi pada waktu hari 28 setelah fertilisasi, plasenta berukuran kurang dari 1 mm. Plasenta berperan dalam pertukaran gas, makanan dan zat sisa antara ibu dan fetus. Pada sistem hubungan plasenta, darah ibu tidak pernah berhubungan dengan darah janin, meskipun begitu virus dan bakteri dapat melalui penghalang (barier) berupa jaringan ikat dan masuk ke dalam darah janin.

Catatan : Makin tua kandungan, jumlah estrogen di dalam darah makin banyak, progesteron makin sedikit. Hal ini berhubungan dengan sifat estrogen yang merangsang uterus untuk berkontraksi, sedangkan progesteron mencegah kontraksi uterus. Hormon oksitosin yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis jugs berperan dalam merangsang kontraksi uterus menjelang persalinan. Progesteron dan estrogen juga merangsang pertumbuhan kelenjar air susu, tetapi setelah kelahiran hormon prolaktin yang dihasilkan kelenjar hipoftsislah yang merangsang produksi air susu.

 

Kontrasepsi adalah suatu cara yang bertujuan mencegah terjadinya pembuahan, terdapat beberapa metode, antara lain:

a. Tanpa Alat BantuDengan cara tidak melakukan koitus pada masa subur wanita (hari 12 – 16 siklus haid). Cara ini dikenal dengan nama sistem kalender atau abstinensi.
b. Menggunakan Alat BantuMencegah pertemuan ovum dengan spermatozoa, dapat dilakukan dengan berbagai alat bantu, misalnya : kondom, spiral, jelly, dan lain-lain.
c. Sterilisasi 

Sterilisasi dilakukan dengan mengikat/memotong saluran vas defereus dikenal dengan istilah vasektomi, atau mengikat/memotong tuba fallopii dikenal dengan istilah tubektomi

Dinamika penularan penyakit merupakan suatu proses transmisi (perpindahan) penyakit dari sumber (resource) penular atau sering disebut dengan reservoar ke reservoar lainnya. Manusia sebagai reservoar adalah penyakit yang berasal dari manusia yang sedang mengalami infeksi dan dapat berupa hanya sebagai pembawa (carrier). Penularan penyakit didukung dengan keberadaan agen (penyebab penyakit) dan lingkungan.

Ruang lingkup bahasan dinamika penularan penyakit akan membahas beberapa aspek, antara lain:

1. Model-model penularan penyakit (mode of transmission)
2. Aspek penularan langsung (direct transmission)
3. Aspek penularan tidak langsung (in-direct transmission)
4. Pencegahan penyakit menular

Penyakit menular pada manusia merupakan masalah penting yang dapat terjadi setiap saat, terutama di negara berkembang khususnya Indonesia. Dinamika penularan penyakit tetap urgen dipelajari karena penyakit meular masih mempunyai angka kematian (mortality) yang cukup tinggi, angka kesakitan (morbidity) dan kecacatan (disability) yang tinggi dan penyakit menular mempunyai kehilangan ekonomi (economic-loss) yang cukup tinggi.

Secara umum dinamika penularan penyakit dapat didekati dengan mengidentifikasi cara penularan penyakit (mode of transmission), penyakit dapat ditularkan kepada manusia yang rentan melalui beberapa cara, baik terjadi secara langsung maupun tidak lansung dari orang ke orang lain dan penyebarannya di masyarakat, ditinjau dari aspek epidemiologi dapat bersifat lokal, regional maupun internasional. Penularan langsung dari orang ke orang lain adalah agen penyakit ditularkan langsung dari seorang infektious ke orang lain melalui hubungan intim (kontak seks), penyakit yang bisa ditimbulkan antara lain GO, syphilis, HIV. Penularan penyakit tidak langsung yakni penyakit menular dari orang ke orang lain dengan perantaraan media. Menular melalui media udara, penyakit yang bisa ditimbulkan adalah seperti TB, rubella, diphteria, influenza. Menular melalui media air, penyakit yang bisa ditimbulkan antara lain diare, kolera, typhes. Menular melalui media tanah, penyakit yang bisa ditimbulkan antara lain cacing. Menular melalui vektor, penyakit yang bisa ditimbulkan antara lain malaria, filariasis, demam berdarah.

Referensi :

1. Bagian Epidemiologi. 2011. Modul Epidemiologi Dasar. Makassar: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin
2. Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta : Rineka Cipta.
3. Budiarto,Eko dan Anggraini Dewi. Pengantar Epidemiologi. 2003. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

EPIDEMIOLOGI KANKER PAYUDARA

Posted: Desember 15, 2011 in Skripsi

Kanker payudara adalah kanker pada jaringan payudara. Ini adalah jenis kanker paling umum yang diderita kaum wanita. Kaum pria juga dapat terserang kanker payudara, walaupun kemungkinannya lebih kecil dari 1 di antara 1000. Pengobatan yang paling lazim adalah dengan pembedahan dan jika perlu dilanjutkan dengan kemoterapi maupun radiasi. Kanker payudara terjadi karena adanya pertumbuhan abnormal sel pada payudara. Organ-organ dan kelenjar dalam tubuh (termasuk payudara) terdiri dari jaringan-jaringan, berisi sel-sel. Umumnya, pertumbuhan sel normal mengalami pemisahan, dan mati ketika sel menua sehingga dapat digantikan sel-sel baru. Tapi, ketika sel-sel lama tidak mati, dan sel-sel baru terus tumbuh (padahal belum diperlukan), jumlah sel yang berlebihan bisa berkembang tidak terkendali sehingga membentuk tumor. Akan tetapi, tidak semua tumor merupakan kanker, terutama pada payudara. Ada jenis tumor jinak (non kanker), ada juga yang ganas (kanker).
A. Anatomi
Payudara sebagai kelenjar subkutis mulai tumbuh sejak minggu keenam masa embrio, yaitu berupa penebalan ektoderma sepanjang garis yang disebut garis susu yang terbentang dari aksila sampai ke regio inguinal .
Payudara terdiri dari jaringan kelenjar, fibrosa dan lemak. Jaringan-jaringan ini terpisah dari otot-otot dinding dada, otot pectoralis dan seratus anterior, oleh jaringan ikat. Sedikit di bawah pusat payudara dewasa terdapat puting (papilla mammaria), tonjolan berpigmen yang dikelilingi oleh areola. Puting mempunyai perforasi pada ujungnya dengan beberapa lubang kecil-kecil, apertura duktus laktiferosa. Tuberkel-tuberkel Montgomery adalah kelenjar lemak pada permukaan areola.
Jaringan kelenjar membentuk 15-25 lobus yang tersusun radier di sekitar puting dan dipisahkan oleh jaringan lemak yang bervariasi jumlahnya, yang mengelilingi jaringan ikat (stroma) di antara lobus-lobus. Setiap lobus berbeda, sehingga penyakit yang menyerang satu lobus tidak menyerang lobus yang lain. Drainase dari lobus menuju ke dalam sinus laktiferosa, yang kemudian berkumpul di duktus pengumpul dan kemudian bermuara ke puting. Di banyak tempat jaringan ikat akan memadat membentuk pita fibrosa yang tegak lurus terhadap substansi lemak, mengikat lapisan dalam dari fasia subkutan payudara pada kulit. Pita ini yaitu, ligamentum cooper, merupakan ligamentum suspensorium dari payudara.
Perdarahan payudara terutama berasal dari cabang a. Perforantes anterior dari a. Mammaria interna, a. Thorakalis lateralis yang bercabang dari a. Aksilaris dan beberapa a. Interkostalis. Persyarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n. Interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri di urus oleh saraf simpatis

B. Patofisiologi
Payudara mengalami tiga macam perubahan yang dipengaruhi hormon. Perubahan pertama ialah mulai dari mada hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas, sampai ke klimakterium, dan menopause. Sejak pubertas pengaruh estrogen dan progesteron yang diproduksi ovarium dan hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya asinus. Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur haid. Sekitar hari ke-8 haid, payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari sebelum haid berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang-kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang haid, payudara menjadi tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak mungkin dilakukan. Pada waktu itu, pemeriksaan foto mammografi tidak berguna karena kontras kelenjar terlalu besar. Begitu haid mulai semuanya berkurang. Perubahan ketiga terjadi pada masa hamil dan menyusui. Pada kehamilan, payudara menjadi besar karena epitel duktus lobus dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh duktus baru. Sekresi hormon prolaktin dan hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu diproduksi oleh sel-sel alveolus, mengisi asinus, kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting susu .
Kanker payudara berasal dari jaringan epithelial, dan paling sering terjadi pada sistem duktal. Mula-mula terjadi hiperplasia sel-sel dengan perkembangan sel-sel atipik. Sel-sel ini akan berlanjut menjadi karsinoma in situ dan menginvasi stroma. Kanker membutuhkan waktu 7 tahun untuk bertumbuh dari sebuah sel tunggal sampai menjadi massa yang cukup besar untuk dapat teraba (kira-kira berdiameter 1 cm). Pada ukuran seperti itu, kira-kira seperempat dari kanker payudara telah bermetastasis.
Karsinoma payudara 95% merupakan karsinoma, berasal dari epitel saluran dan kelenjar payudara. Karsinoma payudara muncul sebagai akibat sel-sel yang abnormal terbentuk pada payudara dengan kecepatan tidak terkontrol dan tidak beraturan. Sel-sel tersebut merupakan hasil mutasi gen dengan perubahan-perubahan bentuk, ukuran maupun fungsinya, Sebagaimana sel-sel tubuh kita yang asli. Mutasi gen ini dipicu oleh keberadaan suatu bahan asing yang masuk ke dalam tubuh kita, diantaranya pengawet makanan, vetsin, radioaktif, oksidan, atau karsinogenik yang dihasilkan oleh tubuh sendiri secara alamiah. Pertumbuhan dimulai di dalam duktus ataupun kelenjar lobulus yang disebut karsinoma non-invasif. Kemudian tumor menerobos ke luar dinding duktus atau kelenjar di daerah lobulus dan invasi ke dalam stroma, yang dikenal dengan nama karsinoma invasif. Pada pertumbuhan selanjutnya tumor meluas menuju fasia otot pektoralis ataupun daerah kulit yang menimbulkan perlengketan-perlengketan. Pada kondisi demikian, tumor dikategorikan stadium lanjut inoperabel.
Penyebaran tumor terjadi melalui pembuluh getah bening, deposit dan tumbuh di kelenjar getah bening, sehingga kelenjar getah bening aksiler ataupun supraklavikuler membesar. Kemudian melalui pembuluh darah, tumor menyebar ke organ jauh antara lain paru, hati, tulang dan otak. Akan tetapi dari penelitian para pakar, mikrometastasis pada organ jauh dapat juga terjadi tanpa didahului penyebaran limfogen. Sel-sel kanker dan racun-racun yang dihasilkannya dapat menyebar ke seluruh tubuh kita seperti tulang, paru-paru, dan liver tanpa disadari oleh penderita. Karenanya tidak mengherankan jika pada penderita kanker payudara ditemukan benjolan di ketiak atau benjolan kelenjar getah bening lainnya. Bahkan muncul pula kanker pada liver dan paru-paru sebagai kanker metastasisnya.
Diduga penyebab terjadinya kanker payudara tidak terlepas dari menurunnya atau mutasi dari aktifitas gen T-Supresor atau sering disebut dengan p53. Meskipun mutasi p53 umumnya terjadi pada kanker payudara berat, namun hanya sedikit yang dapat diidentifikasi pada kanker payudara berat in situ (kanker payudara intraduktal). Penelitian yang paling sering tentang gen p53 pada kanker payudara adalah immunohistokimia dimana p53 ditemukan pada insisi jaringan dengan menggunakan parafin yang tertanam di jaringan. Terbukti bahwa gen supresor p53 pada penderita kanker payudara telah mengalami mutasi sehingga tidak bekerja sebagaimana fungsinya. Mutasi dari p53 menyebabkan terjadinya penurunan mekanisme apoptosis sel. Hal inilah yang menyebabkan munculnya neoplasma pada tubuh dan pertumbuhan sel yang menjadi tidak terkendali.

C. Diagnosis
C.1. Pemeriksaan Klinis
1. Anamnesis
Kebanyakan dari kanker ditemukan jika telah teraba, biasanya oleh wanita itu sendiri. Biasanya pasien datang dengan keluhan rasa sakit yang tidak enak atau tegang di daerah sekitar payudara.
2. Pemeriksaan Fisik
Kanker payudara dapat ditemukan secara dini dengan pemeriksaan sadari, pemeriksaan klinik dan pemeriksaan mamografi. Deteksi dini dapat menekan angka kematian sebesar 25 %- 30%.
a. Sadari (Periksa payudara Sendiri atau Breast Self Examination)
Semua wanita di atas usia 20 tahun sebaiknya melakukan sadari setiap bulan dan segera periksakan diri ke dokter bila ditemukan benjolan. Jika Sadari dilakukan secara rutin, seorang wanita akan dapat menemukan benjolan pada stadium dini. Sebaiknya Sadari dilakukan pada waktu yang sama setiap bulan. Bagi wanita yang masih mengalami menstruasi, waktu yang paling tepat untuk melakukan Sadari adalah 7-10 hari sesudah hari 1 menstruasi. Bagi wanita pasca menopause, Sadari bisa dilakukan kapan saja, tetapi secara rutin dilakuka setiap bulan (misalnya setiap awal bulan).
b. Gejala dan Tanda Keganasan
Pada usia 20-39 tahun setiap wanita sebaiknya memeriksakan payudaranya ke dokter tiap 3 tahun sekali. Pada usia 40 tahun ke atas sebaiknya dilakukan tiap tahun. Secara kasat mata ada tanda dan gejala yang khas menunjukkan adanya suatu keganasan, gejala-gejalanya diantaranya adalah :
1. Adanya retraksi / inversi nipple ( dimana puting susu tertarik ke dalam atau masuk ke dalam payudara) berwarna merah muda atau kecoklat-coklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk (peau d’orange), mengkerut, atau timbul borok (ulkus) pada payudara. Borok itu makin lama makin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara, sering berbau busuk, dan mudah berdarah
2. Keluarnya cairan dari puting susu. Yang khas adalah cairan keluar dari muara duktus satu payudara dan mungkin berdarah
3. timbul pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, bengkak (edema) pada lengan, dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh (Handoyo, 1990). Kanker payudara lanjut sangat mudah dikenali dengan mengetahui kriteria operbilitas Heagensen sebagai berikut:
4. benjolan pada payudara Umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri pada payudara. Benjolan itu mula-mula kecil, makin lama makin besar, lalu melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau pada puting susu
5. adanya nodul satelit pada kulit payudara; kanker payudara jenis mastitis karsinimatosa; terdapat model parasternal; terdapat nodul supraklavikula; adanya edema lengan; adanya metastase jauh.
6. terdapat dua dari tanda-tanda locally advanced, yaitu ulserasi kulit, edema kulit, kulit terfiksasi pada dinding toraks, kelenjar getah bening aksila berdiameter lebih 2,5 cm, dan kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain

C.2. Pemeriksaan Radiologi
Deteksi dan diagnosis dari kanker payudara diawali dengan riwayat penyakit yang berkaitan dengan payudara, dan pemeriksaan fisik dari payudara. Mammografi, yaitu radiogram jaringan lunak, merupakan pemeriksaan tambahan yang penting. Mammografi dapat mendeteksi keberadaan massa yang terlalu kecil untuk diraba, dan pada banyak keadaan dapat memberikan dugaan ada tidaknya sifat keganasan dari massa yang teraba. Mammografi juga bermanfaat sebagai pemeriksaan penyaring pada wanita-wanita sehat yang asimtomatik, dan dalam memberikan keterangan untuk menentukan diagnosa suatu kelainan.
1. Mammografi
Mammografi adalah pemeriksaan sinar-x terhadap payudara. Skrining kanker payudara dengan mammografi dianjurkan untuk perempuan berusia lebih dari 40 tahun dengan risiko standar. Untuk wanita dengan risiko tinggi (khususnya dengan mutasi gen tersebut diatas) mammografi sebaiknya dimulai pada usia 25 tahun atau pada usia 5 tahun lebih muda dari anggota keluarganya yang termuda yang mempunyai riwayat kanker payudara. Misalnya ada kakaknya menderita kanker pada usia 26 tahun, maka adiknya dengan mutasi BRCA1 atau BRCA2 dianjurkan memulai pemeriksaan mammografi pada usia 21 tahun. Banyak kemajuan telah dicapai untuk mendiagnosis kanker payudara antara lain dengan perbaikan pada teknik mammografi dan makin dilengkapi dengan adanya mammografi digital. Pemeriksaan resonansi magnetik payudara dan dengan technetium-99m saat ini sedang dikembangkan, dan mungkin sekali meningkatkan kemampuan diagnosis dini.
Tujuan utama pemeriksaan mammografi adalah untuk mengenal secara dini keganasan pada payudara. Berdasarkan penyelidikan, jika mammografi dan ultrasonografi dipakai bersama-sama dalam prosedur diagnostik, maka akan diperoleh nilai ketepatan diagnosis sebesar 97%. Mammografi terutama berperan pada payudara yang mempunyai jaringan lemak yang dominan serta jaringan fibroglandular yang relatif lebih sedikit dan ini biasanya ditemukan pada wanita dewasa di atas umur 40 tahun yang pada umur tersebut kekerapan akan terjadinya keganasan payudara makin meningkat. Peranan mammografi menjadi berkurang pada payudara yang mempunyai jaringan fibroglandular padat dimana keadaan ini sering terdapat pada wanita muda dibawah 30 tahun. Pada mammografi, perbedaan kepadatan suatu tumor dengan jaringan di sekitarnya dapat jelas terlihat terutama pada payudara wanita tua, hal ini disebabkan karena absorbsi sinar X oleh jaringan tumor akan lebih banyak dari pada jaringan sekitarnya. Umumnya pasien tidak datang berobat dengan bentuk kanker jinak. Namun sekitar 80 % pasien baru malaporkan penyakitnya jika telah terjadi lesi pada kanker jinak tersebut. Mammografi dapat memberikan gambaran yang cukup jelas jika terindikasi terjadinya kanker.
2. Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan tumor payudara dengan ultrasonografi (USG) mulai dikembangkan oleh Wild dan Reid pada tahun 1952 dan sampai saat ini pemeriksaan dengan USG sudah semakin popular dan berkembang dengan pesat. Ultrasonografi merupakan alat bantu pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara dan tidak menggunakan sinar roentgen dan tidak menimbulkan rasa sakit pada pasien. USG payudara biasanya digunakan untuk mengevaluasi abnormalitas yang ditemukan pada pemeriksaan skrining maupun diagnostik mammografi. USG memiliki resolusi kontras yang sangat baik, misalnya dapat membedakan bayangan cairan (kista) dengan struktur normal jaringan payudara, Namun USG tidak memilki resolusi spatial sebaik mammografi sehingga tidak dapat memberikan gambaran struktur payudara sedetail mammografi. USG juga tidak dapat memberikan mikrokalsifikasi yang merupakan predicton adanya keganasan pada payudara. Namun makrokalsifikasi dapat terlihat pada USG.
USG terutama berperan pada payudara yang padat yang biasanya ditemui pada wanita muda, dimana jenis payudara ini kadang-kadang sulit dinilai dengan mammografi. USG juga sangat bermanfaat untuk membedakan apakah tumor itu solid atau kistik, dimana gambarannya pada mammografi hampir sama, tetapi mikroklasifikasi tak dapat dikenal dengan USG. USG sering dipergunakan untuk diagnosis kista pada payudara. Akan tetapi dengan adanya sitologi aspirasi pemakaian USG makin berkurang.
Tanda tumor ganas secara USG diantaranya :
a. Lesi dengan batas tak tegas dan tak teratur
b. struktur echo internal lemah dan heterogen
c. batas echo anterior lesi kuat, posterior lesi lemah sampai tak ada (posterior acoustic shadow). adanya perbedaan besar tumor secara klinis dan secara USG.Beberapa kasus lain yang dapat ditemukan dengan penggunaan USG beserta gambarannya adalah sebagai berikut :
3.Computerized Tomography (CT) Payudara
Akhir-akhir ini pemeriksaan payudara dengan CT juga telah berkembang, tetapi mengingat biaya pemeriksaan yang cukup tinggi, adanya bahaya radiasi dan perlunya penyuntikan zat kontras, melakukan pemeriksaan CT juga menjadi terbatas.
Secara umum masih agak sukar membedakan lesi ganas dan lesi jinak hanya berdasarkan pemeriksaan CT saja, walaupun biasanya tumor ganas menyebabkan peningkatan nilai densitas setelah penyuntikan kontras dibandingkan tumor jinak. Oleh karena itu dapat menggantikan kedudukan mammografi dalam mengenali keganasan payudara terutama dalam program penyaringan (screening).
Pada tumor ganas payudara, CT dapat membantu perencanaan radioterapi dalam menentukan tebal dinding dada dan mengenal adanya metastasis pada kelenjar mammaria interna. Umumnya kelenjar mammaria interna tidak kelihatan pada CT biasa, jika ini terlihat berarti suatu kelainan patologik. Selain itu, CT juga dapat mengenal pembesaran atau metastasis kelenjar aksiler atau adanya perluasan tumor ganas berupa destruksi dinding dada.
C.3 Pemeriksaan Patologi Anatomi
Dua puluh tahun yang lalu biopsi merupakan cara baku untuk konfirmasi diagnosis, sedangkan sekarang ini yang menjadi tehnik baku adalah aspirasi jarum halus (fine needle biopsy) atau core needle biopsy. Biopsi dengan panduan USG, biopsi stereotaktik dan biopsi dengan panduan MRI menjadi teknik yang sedang dikembangkan, khususnya untuk wanita dengan sangkaan kanker tetapi tidak teraba massa di payudara. Pemakaian jarum yang lebih besar (large-core needle-biopsy) memudahkan ahli patologi untuk menilai sediaan.
Dengan melakukan aspirasi jarum halus sifat massa dapat dibedakan antara kistik atau padat. Kista akan mengempis jika semua cairan dibuang. Jika hasil mammogram normal dan tidak terjadi kekambuhan pembentukan massa dalam tindak lanjut selama 2-3 minggu, maka tidak diperlukan tindakan lebih lanjut. Jika massa menetap atau terbentuk kembali, atau jika cairan aspirat mengandung darah, maka ini merupakan indikasi untuk dilakukan biopsi. Biopsi untuk pemeriksaan histologis dapat berupa eksisional (seluruh massa diangkat), atau insisional (sebagian dari massa dibuang). Kebanyakan biopsi merupakan prosedur rawat jalan. Analisis mikroskopik dari spesimen menyatakan ada tidak adanya keganasan. Jika spesimen bersifat ganas, maka direncanakan untuk tindakan pembedahan.
D. Komplikasi
Karsinoma payudara bisa menyebar ke berbagai bagian tubuh. Karsinoma payudara bermetastasis dengan penyebaran langsung ke jaringan sekitarnya, dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah. Tempat yang paling sering untuk metastasis yang jauh atau sistemik adalah paru-paru, pleura, tulang (terutama tengkorak, vertebra dan panggul), adrenal dan hati. Tempat yang lebih jarang adalah otak, tiroid, leptomeningen, mata, perikardium, dan ovarium.

E. Pengobatan
Penatalaksanaan kanker payudara dilakukan dengan serangkaian pengobatan meliputi pembedahan, kemoterapi, terapi hormon, terapi radiasi dan yang terbaru adalah terapi imunologi (antibodi). Pengobatan ini ditujukan untuk memusnahkan kanker atau membatasi perkembangan penyakit serta menghilangkan gejala-gejalanya. Keberagaman jenis terapi ini mengharuskan terapi dilakukan secara individual.
Kanker payudara primer pada beberapa pasien, kanker terbatas di payudara tanpa penyebaran (metastasis) jauh. Pasien seperti ini yang disebut sebagai kanker payudara primer, biasanya didiagnosis sewaktu check-up mammografi, dan diharapkan kemungkinan kesembuhan cukup besar dengan pengobatan lokal dan regional saja. Namun sekarang ini makin banyak bukti, bahwa sebagian besar pasien kanker payudara primer tersebut ternyata mempunyai metastasis yang tidak dapat dideteksi secara klinis, dan sebagian besar yang diobati dengan tindakan bedah (dengan atau tanpa radioterapi) ternyata kemudian mengalami metastasis.
 Pengobatan Lokal dan Regional
1. Operasi
Prosedur pembedahan yang dilakukan pada pasien kanker payudara tergantung pada tahapan penyakit, jenis tumor, umur dan kondisi kesehatan pasien secara umum Operasi mastektomi radikal (pengangkatan seluruh payudara, kelenjar getah bening ketiak, dan otot dinding dada) saat ini telah ditinggalkan dan amat sangat jarang ada indikasi untuk tindakan tersebut. Banyak penelitian membuktikan bahwa untuk sebagian besar kanker payudara tahap dini, lumpektomi (mengangkat tumornya saja) diteruskan dengan radioterapi merupakan pengobatan pilihan. Sekitar 50% pasien kanker payudara di Amerika sekarang ini mendapat pengobatan dengan cara tersebut.
Ada 3 jenis mastektomi (Hirshaut & Pressman, 1992):
a. Untuk meningkatkan harapan hidup, pembedahan biasanya diikuti dengan terapi tambahan seperti radiasi, hormon atau k Modified Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara, jaringan payudara di tulang dada, tulang selangka dan tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.
b. Total (Simple) Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan seluruh payudara saja, tetapi bukan kelenjar di ketiak.
c. Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan sebagian dari payudara. Biasanya disebut lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya pada jaringan yang mengandung sel kanker, bukan seluruh payudara. Operasi ini selalu diikuti dengan pemberian radioterapi. Biasanya lumpectomy direkomendasikan pada pasien yang besar tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir payudara.emoterapi.
2. Pengangkatan kelenjar getah bening aksila
Pasien kanker payudara dengan kelenjar getah bening ketiak yang terbukti positif mengandung sel kanker, mempunyai angka kekambuhan yang lebih besar dibandingkan dengan yang kelenjar ketiaknya bebas kanker. Namun, pengangkatan kelenjar ketiak juga meningkatkan nyeri setelah operasi, seperti rasa kesemutan, pembengkakan dan gangguan pergerakan lengan.
3. Radioterapi
Radioterapi atau terapi sinar adalah penggunaan sinar berenergi tinggi (seperti sinar-x) untuk membunuh atau memperkecil sel kanker. Radioterapi sesudah operasi mengurangi angka kekambuhan sebesar 50-75%. Namun radioterapi dapat menyebabkan efek samping di kemudian hari. Untuk alasan itu, radioterapi setelah operasi dianjurkan dibatasi pada pasien dengan risiko tinggi untuk kekambuhan. Yang dimaksud risiko tinggi adalah pasien dengan tumor yang besar sampai mengenai kulit payudara atau dinding dada, atau untuk pasien yang mempunyai sebaran kanker di kelenjar ketiak. Penelitian menunjukkan hasil uji klinik jangka panjang yang mempelajari pasien risiko tinggi. Satu kelompok diobati dengan teknik radioterapi dan kemoterapi, dan satu kelompok lain diobati dengan kemoterapi saja. Ternyata yang mendapat pengobatan kombinasi kemoterapi dan radioterapi menghasilkan kekambuhan yang lebih sedikit, serta angka ketahanan hidup yang lebih baik. Efek pengobatan ini tubuh menjadi lemah, nafsu makan berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan leukosit cenderung menurun sebagai akibat dari radiasi. 1
 Pengobatan Sistemik
1. Hormonal
Sejak awal tahun 1960-an, sewaktu reseptor estrogen pertama kali ditemukan, diketahui bahwa kanker payudara yang mempunyai reseptor estrogen atau reseptor progesterone yang memberikan hasil pengobatan yang lebih baik. Karena itu setelah pembedahan, umumnya sebagian jaringan kanker disisihkan untuk pemeriksaan reseptor estrogen dan reseptor progesteron.

2. Tamoksifen
Obat ini bekerja langsung terhadap reseptor estrogen yang terdapat di sel kanker sehingga dapat mengecilkan kanker 30%.
3. Goserelin
Dimana Sekitar 40% wanita premenopause dengan estrogen reseptor positif atau yang dengan metastatik berespon terhadap goserelin.
4. Kemoterapi
Kemoterapi adalah penggunaan obat antikanker, biasanya melalui injeksi/infus ataupun secara oral. Tidak hanya sel kanker pada payudara, tapi juga di seluruh tubuh (Denton, 1996). Obat-obatan ini masuk ke dalam darah dan dapat membunuh sel-sel kanker yang telah menyebar, namun efek sampingnya adalah bahwa obat-obatan tersebut juga dapat merusak sel sehat, sehingga pada saat pemberian pasien merasakan efek samping seperti kelelahan, mual, hilangnya nafsu makan, rambut gugur, perubahan jadwal menstruasi dan mudah sakit. Kemoterapi biasanya diberikan 1-2 minggu sesudah operasi. Namun untuk tumor yang terlalu besar, sebaiknya dilakukan kemoterapi

F. Prognosis
Prognosis pasien ditentukan oleh tingkat penyebaran dan potensi metastasis. Bila tidak diobati ketahanan hidup lima tahun adalah 16-22%. Sedangkan ketahanan hidup sepuluh tahun adalah 1-5% . Ketahahan hidup bergantung pada tingkat penyakit saat mulai pegobatan, gambaran histopatologik, dan uji reseptor estrogen yang bila positif lebih baik.
Stadium klinis dari kanker payudara merupakan indikator terbaik untuk menentukan prognosis penyakit ini. Angka kelangsungan hidup 5 tahun pada penderita kanker payudara yang telah menjalani pengobatan yang sesuai mendekati:
- 95% untuk stadium 0
- 88% untuk stadium I
- 66% untuk stadium II
- 36% untuk stadium III
- 7% untuk stadium IV.
Harapan hidup dengan adanya metastasis mencapai 2 sampai 3,5 tahun, walaupun beberapa pasien (25%-35%) dapat hidup selama 5 tahun, dan lainnya (10%) dapat hidup lebih dari 10 tahun. Pasien yang mengalami metastasis lama setelah didiagnosa awal atau yang mengalami metastasis ke tulang atau jaringan lunak memiliki prognosis yang lebih baik.
Pendekatan dari segi medis adalah :
1. Obat Pencegah Kanker Payudara.
Perempuan dengan resiko tinggi, yaitu yang survive/selamat dari kanker payudara atau yang setidaknya memiliki hubungan darah dengan penderita kanker (ibu atau saudara perempuannya), bisa mendapatkan terapi ‘Tamoksifen’, yang bekerja dengan cara memblokade efek pemicu tumor dari estrogen.
2. Mastektomi Sebelum Serangan Kanker.
Untuk perempuan dari keluarga dengan resiko genetik yang sangat tinggi, ada suatu mastektomi untuk pencegahan kanker payudara. Memang merupakan suatu pendekatan yang radikal, tetapi kebanyakan berhasil. Mastektomi ini mengangkat jaringan payudara, tapi tidak seluruhnya, sehingga kemungkinan terjadinya kanker masih ada.
Pencegahan secara alami meliputi :
1. Berolah Raga Secara Teratur.
Penelitian menunjukkan bahwa sejalan dengan meningkatnya aktivitas, maka resiko kanker payudara akan berkurang. Berolah raga akan menurunkan kadar estrogen yang diproduksi tubuh sehingga mengurangi resiko kanker payudara.
2. Kurangi Lemak
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa diet rendah lemak membantu mencegah kanker payudara. Namun penelitian terakhir menyatakan bahwa yang lebih penting adalah jenis lemaknya dan bukan jumlah lemak yang dikonsumsi.
Jenis lemak yang memicu kanker payudara adalah lemak jenuh dalam daging, mentega, makanan yang mengandung susu full-cream (whole-milk dairy foods) dan asam lemak dalam margarin, yang bisa meningkatkan kadar estrogen dalam darah.
Sedangkan jenis lemak yang membantu mencegah kanker payudara adalah lemak tak-jenuh dalam minyak zaitun dan asam lemak Omega-3 dalam ikan Salmon dan ikan air dingin lainnya.
3. Jangan Memasak Daging Terlalu Matang.
Cara Anda memasak daging akan mempengaruhi resiko kanker payudara. Daging-daging yang dimasak/dipanggang menghasilkan senyawa karsinogenik (amino heterosiklik). Semakin lama dimasak, semakin banyak senyawa ini terbentuk. Amino heterosiklik paling banyak terdapat dalam daging bakar yang lapisan luarnya (kulitnya) gosong dan hitam.
4. Jangan Memasak Daging Terlalu Matang.
Semakin banyak buah dan sayuran yang dimakan, semakin berkurang resiko untuk semua kanker, termasuk kanker payudara. Makanan dari tumbuh-tumbuhan mengandung anti-oksidan yang tinggi, di antaranya vitamin A, C, E dan mineral selenium, yang dapat mencegah kerusakan sel yang bisa menjadi penyebab terjadinya kanker.
National Cancer Institute (NCI) merekomendasikan untuk mengkonsumsi buah dan sayuran paling tidak 5 (lima) kali dalam sehari. Tapi harus dihindari buah dan sayuran yang mengandung banyak lemak, seperti kentang goreng atau pai dengan krim pisang.
5. Konsumsi Suplemen Anti-Oksidan.
Suplemen tidak dapat menggantikan buah dan sayuran, tetapi suatu formula anti-oksidan bisa merupakan tambahan makanan yang dapat mencegah kanker payudara.
6. Konsumsi Makanan Berserat.
Selain berfungsi sebagai anti-oksidan, buah dan sayuran juga mengandung banyak serat. Makanan berserat akan mengikat estrogen dalam saluran pencernaan, sehingga kadarnya dalam darah akan berkurang.
7. Konsumsi Makanan Yang Mengandung Kedelai / Protein.
Makanan-makanan yang berasal dari kedelai banyak mengandung estrogen tumbuhan (fito-estrogen). Seperti halnya ‘Tamoksifen’, senyawa ini mirip dengan estrogen tubuh, tapi lebih lemah. Fito-estrogen terikat pada reseptor sel yang sama dengan estrogen tubuh, mengikatnya keluar dari sel payudara sehingga mengurangi efek pemicu kanker payudara.
Selain menghalangi estrogen tubuh untuk mencapai sel reseptor, makanan berkedelai juga mempercepat pengeluaran estrogen dari tubuh.
8. Konsumsi Kacang-Kacangan.
Selain dalam kedelai, fito-estrogen juga terdapat dalam jenis kacang-kacangan lainnya.
9. Hindari Alkohol.
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa semakin banyak mengkonsumsi alkohol, maka resiko kanker payudara semakin bertambah karena alkohol meningkatkan kadar estrogen dalam darah.

10. Kontrol Berat Badan Anda.
Kenaikan berat badan setiap pon setelah usia 18 tahun akan menambah resiko kanker payudara. Ini disebabkan karena sejalan dengan bertambahnya lemak tubuh, maka kadar estrogen sebagai hormon pemicu kanker payudara dalam darahpun akan meningkat.
11. Hindari Xeno-Estrogens.
Xeno-estrogen maksudnya estrogen yang berasal dari luar tubuh. Perempuan mengkonsumsi estrogen dari luar tubuh terutama yang berasal dari residu hormon estrogenik yang terdapat dalam daging dan residu pesitisida estrogenik. Diduga xeno-estrogen bisa meningkatkan kadar estrogen darah sehingga menambah resiko kanker payudara.
Cara terbaik untuk menghindari xeno-estrogen adalah dengan mengurangi konsumsi daging, unggas (ayam-itik) dan produk susu (whole-milk dairy product).
12. Berjemur di Bawah Sinar Matahari.
Meningkatnya angka kejadian kanker kulit (Melanoma maligna) menjadikan kita takut akan sinar matahari. Tetapi sedikit sinar matahari dapat membantu mencegah kanker payudara, karena pada saat matahari mengenai kulit, tubuh membuat vitamin D. Vitamin D akan membantu jaringan payudara menyerap kalsium sehingga mengurangi resiko kanker payudara.
Agar bisa memperoleh sinar matahari selama 20 menit/hari, dianjurkan untuk berjalan di bawah sinar matahari pada siang hari atau sore hari. Tetapi bila Anda ingin mendapatkan kalsium atau vitamin D tidak dari sinar matahari, Anda dapat mencoba mengkonsumsi makanan suplemen.
13. Jangan Merokok.
14. Berikan ASI Rutin Kepada Anak Anda.
Untuk alasan yang masih belum jelas, menyusui berhubungan dengan berkurangnya resiko kanker payudara sebelum masa menopause.
15. Pertimbangkan Sebelum Melakukan HRT.
Ada beberapa alasan bagus untuk melakukan HRT (Hormone Replacement Therapy / terapi pengganti hormon) sesudah masa menopause, yaitu mengurangi resiko penyakit jantung, osteoporosis dan penyakit Alzheimer’s. Tetapi HRT akan menambah resiko kanker payudara
REFERENSI
Bustan, M.N. Dr.2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta
Pengobatan Kanker Tak Sia-sia. http://jurnal nasional.com/
A – Z Kanker Payudara pada Perempuan. http://www.conectique.com/
Kanker Payudara. http://www.hompedin.org/
Berpikir Positif Cegah Kanker Payudara. http://www.kompas.com/ di akses
Kanker Payudara. http://www.wikipedia.org/
Deteksi Dini Kanker Payudara. http://www.med.unhas.ac.id.com/
Fivone, Arbe.2008. Kanker Payudara. http://www.singgasanapencariilmu.com/

EPIDEMIOLOGI SEKSUAL

Posted: Desember 15, 2011 in Bahan Kuliahku

Epidemiologi seksual dimaksudkan untuk menyatakan keberadaan masalah seks dan segala seluk beluk terkait dengan dunia seks

SEKS MENJADI SESUATU YANG LUAR BIASA ?

 Lebih dari 100 juta kali hubungan seks terjadi setiap hari di dunia.
 Dari sekian banyak kohabitasi yang berhasil adalah 910.000 kehamilan
 Sekitar 356.000 infeksi bakteri dan virus terjadi melalui hubungan seksual
 50% terjadi kehamilan unplanned dan 25% kehamilan unwanted
 Sekitar 150.000 unwanted pregnancy diakhiri dengan aborsi induksi. 1/3  unsafe abortion yang menghasilkan kematian 500 kematian/hari
 Lebih dari 25.000 bayi dan 14.000 anak umur 1-4 tahun mati tiap hari.
 Satu di antara 12 bayi tidak bisa berulang tahun yang pertama dan 1 diantara 8 yang tidak sampai pada ultah ke lima
 Masih ada sekitar 300 juta pasangan yang belum mendapat pelayanan kontrasepsi
 15 juta wanita remaja menyumbangkan bayi terhadap kelahiran, atau 1/5 dari seluruh kelahiran
 Satu diantara 20 remaja pernah terkena PMS
 Setengah penderita AIDS adalah kaum muda kurang dari 25 tahun

RUANG LINGKUP SEPUTAR SEKS
 Masalah Umum : Isu Gender
 Masalah Premarried
 Masalah Perkawinan (Married)
 Masalah Postmarried
 Penyakit-penyakit seksual

MASALAH PREMARRIED
 Cinta (Love)
 Keperawanan (Virginitas)
 Pemerkosaan (Rape)
 Pelecehan seksual (Sexual Harasment)
 Kegiatan seksual (Sexual activity)
 Kehamilan remaja (Teneege Pregnancy)
 Kegagalan/gangguan seksual (Sexual Failure/Disorder)
 Abortion
 Infertilitas
 Family rape (pemerkosaan keluarga)

SEKS 4 K
 KEBUTUHAN
 KEPUASAN
 KEAMANAN
 KONSEKUENSI

MASALAH 4 K
 Kebutuhan  Pemaksaan seksual seperti pemerkosaan
 Kepuasan  Penyimpangan seksual seperti anal seks
 Pelarian seksual seperti lari ke lokalisasi
 Keamanan  Penyakit infeksi
 Konsekuesi  Pengguguran

DAMPAK NEGATIF CINTA :
1. Patah hati  depresi sampai bunuh diri
2. Kehamilan pra remaja
3. Kawin muda
4. Perceraian tinggi

SEKS REMAJA
AKIBAT SEKS REMAJA :
Kesehatan  kehamilan, abortus, pemerkosaan
Sosial  malu, menarik diri dari sekolah, pindah kota
Keluarga  aib, pindah rumah
Psikologis  stress, trauma psikis, bunuh diri

SEKS AMAN
 ANTISIPATIF
 MANUSIAWI
 AKURAT
 NORMATIF

SEKS SEHAT
 SEKSI
 EFEKTIF
 HALAL
 AMAN
 TETAP

SEKS YANG SEHAT MENCIPTAKAN 5 “S“
 SAH
 SERASI
 SELARAS
 SEIMBANG
 SEJAHTERA

PENYAKIT SEKSUAL
 STD
 HIV/AIDS
 KANKER
 SEXUAL DEVIATION
 dll

1. Definisi
GIS (Geographic Information System) merupakan bagian dari kemajuan teknologi informasi (information technology). Sebagai teknologi berbasis komputer, GIS harus diperhitungkan bagi mereka yang berkecimpung dalam berbagai bidang pekerjaan seperti perencanaan, inventarisasi, monitoring, dan pengambilan keputusan. Bidang aplikasi GIS yang demikian luas, dari urusan militer sampai pada persoalan bagaimana mencari jalur terpendek untuk pengantaran barang atau delivery system, menghendaki penanganan pekerjaan yang dilakukan secara terpadu (integrated) dan multidisiplin (Prahasta, 2002 & Aziz, 2005).
GIS (Geographic Information System) merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk mengelola (input, manajemen, proses dan output) data spasial atau data yang bereferensi geografis. Setiap data yang merujuk lokasi di permukaan bumi dapat disebut sebagai data spasial bereferensi geografis. Misalnya data kepadatan penduduk suatu daerah, data jaringan jalan, data vegetasi dan sebagainya (Nuckols, 2004).
Geografi adalah informasi mengenai permukaan bumi dan semua objek yang berada diatasnya, yang menjadi kerangka bagi pengaturan dan pengorganisasian bagi semua tindakan selanjutnya. GIS merupakan teknologi untuk mengelola, menganalisa dan menyebarkan informasi geografis. Pemilihan lokasi, target lapisan pemasaran, perencanaan penyebaran jaringan, membalas pada darurat, atau menuliskan kembali batas-batas wilayah suatu negara, semuanya adalah permasalahan yang dapat di pecahkan melalui geografi (Libraries & Academic Information Resources, 2006).
GIS (Geographic Information System) adalah sistem yang berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan data dan manipulasi informasi geografis. GIS (Geographic Information System) suatu bentuk sistem informasi yang menyajikan informasi dalam bentuk grafis dengan menggunakan peta sebagai antar muka (WHO, 2000).
2. Pengelolaan GIS (Geographic Information System)
Adapun jenis-jenis pengelolaan GIS yaitu:
a) Sumber Informasi Geografi
Sumber informasi geografi selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu (bersifat dinamis), sejalan dengan perubahan gejala alam dan gejala sosial. Dalam geografi, informasi yang diperlukan harus memiliki ciri-ciri yang dimiliki ilmu lain (Prahasta, 2002), yaitu:
(1) Merupakan pengetahuan (knowledge) hasil pengalaman.
(2) Tersusun secara sistematis, artinya merupakan satu kesatuan yang tersusun secara berurut dan teratur.
(3) Logis, artinya masuk akal dan menunjukkan sebab akibat.
(4) Objektif, artinya berlaku umum dan mempunyai sasaran yang jelas dan teruji. Selain memiliki ciri-ciri tersebut di atas, geografi juga harus menunjukkan ciri spasial (keruangan) dan regional (kewilayahan). Aspek spasial dan regional merupakan ciri khas geografi, yang membedakannya dengan ilmu-ilmu lain.
b) Komponen-Komponen Dalam GIS
GIS merupakan produk dari beberapa komponen. Komponen-komponen yang terdapat dalam GIS yaitu perangkat keras, perangkat lunak dan intelegensi manusia (Prahasta, 2002 & Husein, 2006).
(1) Perangkat Keras (Hardware)
Perangkat keras: berupa komputer beserta instrumennya (perangkat pendukungnya). Data yang terdapat dalam GIS diolah melalui perangkat keras. Perangkat keras dalam GIS terbagi menjadi tiga kelompok yaitu:
(a) Alat masukan (input) sebagai alat untuk memasukkan data ke dalam jaringan komputer. Contoh: Scanner, digitizer, CD-ROM.
(b) Alat pemrosesan, merupakan sistem dalam komputer yang berfungsi mengolah, menganalisis dan menyimpan data yang masuk sesuai kebutuhan, contoh: CPU, tape drive, disk drive.
(c) Alat keluaran (ouput) yang berfungsi menayangkan informasi geografi sebagai data dalam proses GIS.
(2) Perangkat Lunak (Software)
Perangkat lunak, merupakan sistem modul yang berfungsi untuk memasukkan, menyimpan dan mengeluarkan data yang diperlukan. Data hasil penginderaan jauh dan tambahan (data lapangan, peta) dijadikan satu menjadi data dasar geografi. Data dasar tersebut dimasukkan ke komputer melalui unit masukan untuk disimpan dalam disket. Bila diperlukan data yang telah disimpan tersebut dapat ditayangkan melalui layar monitor atau dicetak untuk bahan laporan (dalam bentuk peta atau gambar).
(3) Intelegensi manusia (Brainware)
Brainware merupakan kemampuan manusia dalam pengelolaan dan pemanfaatan GIS secara efektif. Bagaimanapun juga manusia merupakan subjek (pelaku) yang mengendalikan seluruh sistem, sehingga sangat dituntut kemampuan dan penguasaannya terhadap ilmu dan teknologi mutakhir. Selain itu diperlukan pula kemampuan untuk memadukan pengelolaan dengan pemanfaatan GIS, agar GIS dapat digunakan secara efektif dan efisien. Adanya koordinasi dalam pengelolaan GIS sangat diperlukan agar informasi yang diperoleh tidak simpang siur, tetapi tepat dan akurat.
c) Cara Mengelola Informasi Geografi
Secara umum proses GIS terdiri atas tiga bagian (subsistem), yaitu subsistem masukan data (input data), manipulasi dan analisis data, menyajikan data (output data) (Husein, 2006)
(1) Subsistem Masukan Data (Input Data)
Subsistem ini berperan untuk memasukkan data dan mengubah data asli ke bentuk yang dapat diterima dan dipakai dalam GIS. Semua data dasar geografi diubah dulu menjadi data digital, sebelum dimasukkan ke komputer. Data digital memiliki kelebihan dibandingkan dengan peta (garis, area) karena jumlah data yang disimpan lebih banyak dan pengambilan kembali lebih cepat. Ada dua macam data dasar geografi, yaitu data spasial dan data atribut.
(a) Data spasial (keruangan), yaitu data yang menunjukkan ruang, lokasi atau tempat-tempat di permukaan bumi. Data spasial berasal dari peta analog, foto udara dan penginderaan jauh dalam bentuk cetak kertas.
(b) Data atribut (deskriptip) yaitu data yang terdapat pada ruang atau tempat. Atribut menjelaskan suatu informasi. Data atribut diperoleh dari statistik, sensus, catatan lapangan dan tabular (data yang disimpan dalam bentuk tabel) lainnya. Data atribut dapat dilihat dari segi kualitas, misalnya kekuatan pohon. Dan dapat dilihat dari segi kuantitas, misalnya jumlah pohon.
Data spasial dan data atribut tersimpan dalam bentuk titik (dot), garis (vektor), polygon (area) dan pixel (grid). Data dalam bentuk titik (dot), meliputi ketinggian tempat, curah hujan, lokasi dan topografi. Data dalam bentuk garis (vektor), meliputi jaringan jalan, pipa air minum, pola aliran sungai dan garis kontur. Data dalam bentuk poligon (area), meliputi daerah administrasi, geologi, geomorfologi, jenis tanah dan penggunaan tanah (Prahasta, 2002).
Data dasar yang dimasukkan dalam GIS diperoleh dari tiga sumber, yaitu data lapangan (teristris), data peta dan data penginderaan jauh (Prahasta, 2002).
(a) Data Lapangan (Teristris)
Data teristris adalah data yang diperoleh secara langsung melalui hasil pengamatan di lapangan, karena data ini tidak terekam dengan alat penginderaan jauh. Misalnya, batas administrasi, kepadatan penduduk, curah hujan, jenis tanah dan kemiringan lereng.
(b) Data Peta
Data peta adalah data yang digunakan sebagai masukan dalam GIS yang diperoleh dari peta, kemudian diubah ke dalam bentuk digital.
(c) Data Penginderaan Jauh
Data ini merupakan data dalam bentuk citra dan foto udara. Citra adalah gambar permukaan bumi yang diambil melalui satelit. Sedangkan foto udara adalah gambar permukaan bumi yang diambil melalui pesawat udara. Informasi yang terekam pada citra penginderaan jauh yang berupa foto udara atau radar, diinterpretasi (ditafsirkan) dahulu sebelum diubah ke dalam bentuk digital. Sedangkan citra yang diperoleh dari satelit yang sudah dalam bentuk digital, langsung digunakan setelah diadakan koreksi seperlunya. Data penginderaan jauh dan data teristris dimasukkan ke dalam GIS, kemudian disajikan ke dalam bentuk peta, grafik, tabel, gambar, bagan, atau hasil perhitungan.
(2) Subsistem Manipulasi dan Analisis Data
Subsistem ini berfungsi menyimpan, menimbun, menarik kembali data dasar dan menganalisa data yang telah tersimpan dalam komputer. Ada beberapa macam analisa data, antara lain:
(a) Analisis lebar, menghasilkan daerah tepian sungai dengan lebar tertentu. Analisis lebar adalah analisis yang dapat menghasilkan gambaran daerah tepian sungai dengan lebar tertentu. Kegunaannya antara lain untuk perencanaan pembangunan bendungan sebagai penanggulangan banjir.
(b) Analisis penjumlahan aritmatika (arithmetic addition) menghasilkan penjumlahan. Analisis ini digunakan untuk menangani peta dengan klasifikasi, hasilnya menunjukkan peta dengan klasifikasi baru.
(3) Subsistem penyajian data (output data)
Subsistem output data berfungsi menayangkan informasi geografi sebagai hasil analisis data dalam proses GIS. Informasi tersebut ditayangkan dalam bentuk peta, tabel, bagan, gambar, grafik dan hasil perhitungan. (Husein, 2006).
3. Manfaat GIS dalam Bidang Kesehatan
Salah satu tujuan pengembangan GIS (Geographic Information System) adalah menghasilkan suatu strategi spasial pendidikan dengan konsep SDSS (Spatial Decision Support System). Tugas dan fungsi PSP (Pusat Statistik Pendidikan) Balitbang Depdiknas sebagai lembaga pengelola data pendidikan, yang mengumpulkan data pendidikan secara rutin (tahunan) sangat sesuai untuk menghasilkan suatu strategi nasional dalam menyosialisasi, mengimplementasikan dan monev (monitoring dan evaluasi) progress suatu kebijakan departemen dari perspektif geografi.(L.Manik dalam Departemen Pendidikan Nasional).
GIS adalah salah satu alat yang efektif untuk memonitor dan mengontrol penyebaran penyakit melalui aplikasi dari GIS di dalam mengontrol, monitoring, dan pengawasan dari penyebaran penyakit melalui media tertentu. Sekarang ini penelitian melangkah ke arah penemuan area rentan dari penggunaan penyebaran penyakit melalui media tertentu GIS (Gupta, 2003).
Manfaat GIS dewasa ini khususnya dalam menyongsong pembangunan di masa mendatang semakin penting, terutama di bidang Kesehatan. Saat ini GIS banyak memberikan kontribusi dalam bidang kesehatan diantaranya sebagai berikut (Nuckols, 2004 & WHO, 2008):
a) Memonitor status kesehatan untuk mengidentifikasi status kesehatan yang ada di masyarakat.
b) Mendiagnosa dan mengintervensi masalah serta risiko kesehatan di masyarakat.
c) Menginformasikan, mendidik dan memberdayakan masyarakat mengenai isu-isu kesehatan.
d) Membangun dan menggerakkan hubungan kerjasama dengan masyarakat untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah kesehatan.
e) Membangun kebijakan dan rencana yang mendukung usaha individu masupun masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan dalam menyelesaikan masalah kesehatan.
f) Membangun perangkat hukum dan peraturan yang melindungi kesehatan dan menjamin keselamatan masyarakat.
g) Menghubungkan individu yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan tersebut jika belum tersedia.
h) Menjamin kestersediaan tenaga kesehatan dan ahli kesehatan masyarakat yang berkompeten di bidangnya.
i) Megevaluasi efektifitas, kemudahan akses, dan kualitas pelayanan kesehatan di masyarakat.
j) Penelitian untuk menciptakan penemuan baru dan inovasi dalam memecahkan masalah-masalah di masyarakat

REFERENSI:
1. Budiyanto, Eko. 2002. Sistem Informasi Geografis

2. Andika. 2010. Gambaran Spasial Kasus Demam Tifoid Dengan Metode GIS (Geographic Information System) di Kecamatan Panakkukang Kota Makassar Tahun 2009. Skripsi tidak dipublikasikan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

3. Ansariadi dan Alimunddin, 2009. Spatial Analysis For Several Important Diseases and Health Service In South Sulawesi; Experiences Using GIS Methodes In Health. Australia: Charsles Darwin University Press

4. Arsip Perkuliahan

TINJAUAN PUSTAKA: GAMBARAN SPASIAL

Posted: November 18, 2011 in Skripsi

Secara umum, terdapat dua jenis data yang dapat digunakan untuk merepresentasikan atau memodelkan fenomena-fenomena yang terdapat di dunia nyata. Jenis data tersebut yaitu jenis data ruang atau spasial dan jenis data atribut atau non-spasial. Jenis data spasial ini menjabarkan lokasi, bentuk dari feature geografi dan aspek-aspek keruangan dari fenomena yang bersangkutan dan hubungan spasial pada feature lainnya, sedangkan data atribut (non spasial) berisi items atau properties dari fenomena yang bersangkutan hingga dimensi waktunya atau keterangan (atribut) dari suatu feature (Prahasta, 2002 & Gunarso, 2003).

Data spasial mengacu pada informasi yang berhubungan dengan lokasi di permukaan bumi, dan memungkinkan pengguna untuk melihat suatu kawasan atau fitur geografis dalam kaitannya dengan daerah lain (dalam kaitannya dengan perubahan dari waktu ke waktu dan dalam hubungannya dengan berbagai faktor). Data Spasial baik menggambarkan lokasi sebuah fitur geografis dan atributnya (non-locational informasi tentang fitur, biasanya disimpan sebagai koordinat dan topologi). Sebuah fitur sifat-sifat dapat dilihat sebagai informasi deskriptif yang digunakan untuk mengelompokkan dan atau menggambarkan fitur tertentu. Data Spasial ada dalam berbagai bentuk, termasuk peta digital, kertas peta, daerah sidik jari dan foto digital citra satelit dan dapat dimanipulasi di desktop pemetaan atau program GIS (Geographic Information System) seperti ArcView, ArcInfo, MapInfo, atau Intergraph. (University Of Alberta’s Libraries, 2006).

Data vektor mewakili fitur geografis (entitas) sebagai x, y koordinat dan merupakan fitur yang digambarkan sebagai titik-titik, garis dan poligon. Contoh dari vektor umum format Arc / Info Ekspor (E00 file), MapInfo MID/MIF file, DXF dan Shape. (University Of Alberta’s Libraries, 2006).
Data raster adalah sel atau piksel dengan metode mewakili fitur bumi dengan masing-masing sel atau piksel memiliki nilai. Data raster merupakan peta atau gambar yang dibuat melalui pemindaian. Contoh dari raster format TIFF, GIF, JPEG, dan BMP. (University Of Alberta’s Libraries, 2006).
Karakteristik utama dari data spasial adalah keunikan mengumpulkan data wilayah untuk berbagai kepentingan. Selain itu juga ditujukan sebagai salah satu elemen yang kritis dalam melaksanakan pembangunan sosial ekonomi secara berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan. Berdasarkan perkiraan hampir lebih dari 80% informasi mengenai bumi berhubungan dengan informasi spasial (Budiyanto, 2002).

Kemampuan spasial merupakan aspek dari kognisi berkembang sejalan dengan perkembangan kognitif yaitu konsep spasial pada tahapan sensori-motor, konsep spasial pada tahapan pra-operasional, konsep spasial pada tahapan konkrit-operasional dan konsep spasial pada tahapan formal-operasional. Kemampuan spasial biasanya diperoleh melalui alur perkembangan berdasarkan hubungan spasial topologi, proyektif. Pada hubungan spasial topologi manusia mengerti spasial dalam hubungannya dengan relasi topologi yaitu “di samping” atau “di depan”. Dalam mengorganisasikan dan membangun bagian gambar atau pola masih didasarkan pada hubungan yang bersifat proksimitas, keterpisahan, urutan, ketertutupan dan kontinuitas. Objek atau gambar masih dilihat dalam isolasi, tidak dihubungkan dengan objek lain. Hubungan spasial semacam ini adalah bersifat hubungan satu-satu atau hubungan berkesinambungan. (Piaget & Inhelder dalam Tambunan, 2006).

Perkembangan teknologi yang cepat dalam pengambilan data spasial telah membuat perekaman terhadap data berubah menjadi bentuk digital dan relatif cepat dalam melakukan prosesnya. Salah satunya perkembangan teknologi yang berpengaruh terhadap perekeman data pada saat ini adalah teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dan GPS (Global Potitioning System) (Prahasta, 2002).
Prinsip yang dapat mengidentifikasikan perubahan teknologi perekaman data spasial selama tiga dasawarsa ini yaitu, perkembangan teknologi, kepedulian terhadap lingkungan hidup, konflik politik atau perang, kepentingan ekonomi.

Data lokasi yang spesifik dibutuhkan untuk melakukan pemantauan terhadap dampak dalam suatu lingkungan, untuk mendukung program restorasi lingkungan dan untuk mengatur pembangunan. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan melalui kegiatan mapping (pemetaan) dengan menggunakan komputer dan pengamatan terhadap bumi dengan menggunakan satelit penginderaan jauh (Mastra, 2003).
Peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan atau buatan manusia, yang berada di atas maupun di bawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala tertentu (Peraturan Pemerintah RI No X, 2000).
Peta mulai ada dan digunakan manusia sejak manusia melakukan penjelajahan dan penelitian. Walaupun masih dalam bentuk yang sangat sederhana yaitu dalam bentuk sketsa mengenai lokasi suatu tempat (Mastra, 2003).

Mapping (pemetaaan) adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran permukaan bumi (terminologi geodesi) dengan menggunakan cara dan atau metode tertentu sehingga didapatkan hasil berupa softcopy maupun hardcopy peta yang berbentuk vektor maupun raster (Mastra, 2003).
Adapun jenis-jenis peta menurut Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP) tahun 2005 yaitu sebagai berikut:
1. Jenis-Jenis Peta
a) Jenis Peta Berdasarkan Isinya
Berikut ini adalah penjelasan penggolongan peta berdasarkan isinya. Berdasarkan isinya peta dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu: peta umum dan peta khusus (tematik).

(1) Peta Umum
Peta umum adalah peta yang menggambarkan permukaan bumi secara umum. Peta umum ini memuat semua penampakan yang terdapat di suatu daerah, baik kenampakan fisis (alam) maupun kenampakan sosial budaya. Kenampakan fisis misalnya sungai, gunung, laut, danau dan lainnya. Kenampakan sosial budaya misalnya jalan raya, jalan kereta api, pemukiman kota dan lainnya.
(2) Peta Khusus atau Tematik
Peta khusus atau tematik adalah peta yang hanya menggambarkan satu atau dua kenampakan pada permukaan bumi yang ingin ditampilkan berdasarkan tema tertentu. Peta khusus adalah peta yang menggambarkan kenampakan-kenampakan (fenomena geosfer) tertentu, baik kondisi fisik maupun sosial budaya. Contoh peta khusus yaitu peta curah hujan, peta kepadatan penduduk, peta penyebaran hasil pertanian, peta penyebaran hasil tambang, chart (peta jalur penerbangan atau pelayaran).
b) Jenis peta berdasarkan skalanya
Peta tidak sama besarnya (ukurannya). Ada peta yang berukuran besar dan ada peta yang berukuran kecil. Besar-kecilnya peta ditentukan oleh besar-kecilnya skala yang digunakan. Skala peta adalah perbandingan jarak antara dua titik di peta dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi (lapangan).
Peta berdasarkan skalanya dapat digolongkan menjadi empat jenis, yaitu:
(1) Peta kadaster atau teknik adalah peta yang mempunyai skala antara 1 : 100 sampai 1 : 5.000. Peta ini digunakan untuk menggambarkan peta tanah atau peta dalam sertifikat tanah, oleh karena itu banyak terdapat di Departemen Dalam Negeri, pada Dinas Agraria (Badan Pertanahan Nasional).
(2) Peta skala besar adalah peta yang mempunyai skala 1 : 5.000 sampai 1 : 250.000. Peta skala besar digunakan untuk menggambarkan wilayah yang relatif sempit, misalnya peta kelurahan, peta kecamatan.
(3) Peta skala sedang adalah peta yang mempunyai skala antara 1 : 250.000 sampai 1: 500.000. Peta skala sedang digunakan untuk menggambarkan daerah yang agak luas, misalnya peta propinsi Jawa Tengah, peta Propinsi Maluku.
(4) Peta skala kecil adalah peta yang mempunyai skala 1 : 500.000 sampai 1 : 1.000.000 atau lebih. Peta skala kecil digunakan untuk menggambarkan daerah yang relatif luas, misalnya peta negara, benua bahkan dunia. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa semakin besar angka pembandingnya berarti skala peta itu makin kecil.

c) Jenis peta berdasarkan tujuannya
Peta dibuat orang dengan berbagai tujuan. Berikut ini contoh-contoh peta untuk berbagai tujuan:
(1) Peta Pendidikan (Educational Map)
Contohnya: peta lokasi sekolah SLTP/SMU.
(2) Peta Ilmu Pengetahuan
Contohnya: peta arah angin, peta penduduk.
(3) Peta Informasi Umum (General Information Map)
Contohnya: peta pusat perbelanjaan.
(4) Peta Turis (Tourism Map)
Contohnya: peta museum, peta rute bus.
(5) Peta Navigasi
Contohnya: peta penerbangan, peta pelayaran.
(6) Peta Aplikasi (Technical Application Map)
Contohnya: peta penggunaan tanah, peta curah hujan.
(7) Peta Perencanaan (Planning Map)
Contohnya: peta jalur hijau, peta perumahan, peta pertambangan.
2. Fungsi Peta
Peta sangat diperlukan oleh manusia karena dari peta diketahui lokasi yang dicari. Secara umum fungsi peta dapat disimpulkan sebagai berikut:

a) Menunjukkan posisi atau lokasi suatu tempat di permukaan bumi.
b) Memperlihatkan ukuran (luas, jarak) dan arah suatu tempat di permukaan bumi.
c) Menggambarkan bentuk-bentuk di permukaan bumi, seperti benua, negara, gunung, sungai dan bentuk-bentuk lainnya.
d) Membantu peneliti sebelum melakukan survei untuk mengetahui kondisi daerah yang akan diteliti.
e) Menyajikan data tentang potensi suatu wilayah.
f) Alat analisis untuk mendapatkan suatu kesimpulan.
g) Alat untuk menjelaskan rencana-rencana yang diajukan.
h) Alat untuk mempelajari hubungan timbal-balik antara fenomena-fenomena (gejala-gejala) geografi di permukaan bumi.

REFERENSI:
1. Budiyanto, Eko. 2002. Sistem Informasi Geografis

2. Andika. 2010. Gambaran Spasial Kasus Demam Tifoid Dengan Metode GIS (Geographic Information System) di Kecamatan Panakkukang Kota Makassar Tahun 2009. Skripsi tidak dipublikasikan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

3. Ansariadi dan Alimunddin, 2009. Spatial Analysis For Several Important Diseases and Health Service In South Sulawesi; Experiences Using GIS Methodes In Health. Australia: Charsles Darwin University Press

4. Arsip Perkuliahan

EPIDEMIOLOGI GENETIK (DNA/RNA)

Posted: November 17, 2011 in Bahan Kuliahku

A. Asam Deoksiribonukleat (ADN)
1. Pengertian ADN
Asam deoksiribonukleat, lebih dikenal dengan DNA (bahasa Inggris: deoxyribonucleic acid), adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme. Di dalam sel, DNA umumnya terletak di dalam inti sel.
Secara garis besar, peran DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetik; artinya, DNA menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel. Ini berlaku umum bagi setiap organisme. Di antara perkecualian yang menonjol adalah beberapa jenis virus (dan virus tidak termasuk organisme) seperti HIV (Human Immunodeficiency Virus).
Asam deoksiribonuleat atau disinggkat ADN merupakan persenyawaan kimia yang paling penting bagi mahluk hidup dalam membawa keterangan genetic dari sel kuhusnya atau dari mahluk hidup pada umumnya dari datu generasi ke genarasi berikutnya. ADN sangat menarik perhatian para biologiwan modern dalam abad ini, seperti halnya ahli kimai serta fisika tertarik pada atom.
2. Sejarah ADN
Molekul ADN pertama-tama diisolir oleh F.Micher (1969) dari sel spermatozoa dan dari nucleus sel-sel darah merah burung. Akan tetapi ia tidak dapat mengenal sifat kimianya yang pasti dan menamakan sebagai nuclei. Fischer (1880) mengenal dua macam zat-zat Pirimidin dan Purin dalam asam nukleat. Kosel (1910) menemukan 2 Pirimidin yairy Sitosin dan Timin 2 Purin Adenin dan Guanin di dalam asam nukleat itu.
Levine (1910) seorang ahli biokimia kelahiran Rusiamenegnal 5 gula Deoksiribose dan Asam fosfat. Robert Feulgen (1914) menunjukkan Tes warna AND yang dikenal dengan reaksi Feulgen. Avery,Macleod dan McCarthy (1944) menemukan AND mempunyai hubungan langsung dengan keturunan. Chargaff (1947) studi kimiawi AND terdiri dari bagian basa Purin dan Pirimidin yg sama. Wilkins et all (1950)àbasa purin & pirimidin dlm ADN terletak dgn jarak 3,4 Å. Watson&Crick (1953) menemukan model “doubel helix” dalam rantai asam deoksiribonukleat. Kornberg (1967) membuat molekul ADN dari 6000 nukleotida dalam ADN.

3. Letaknya
ADN Terdapat pada makhluk hidup kecuali beberapa virus .di dalam sel bagian terbesar dari ADN terdapat dalam nucleus terutama di dalam kromosom. Molekul ADN juga ditemukan dalam mitokondria,plastida, dan sentriol.
4. Morfologi
Molekul ADN dari sel-sel dengan nucleus sejati mempunyai bentuk sbagi benang lurus dan tak bercabang, sedangkan pada sel-sel tanpa nucleus sejati, mitokondria dan plastida molekul ADN berbentuk lingkaran. Pada mitokondria, molekul ADN mempunyai ukuran 5 u pada virus lebih panjang, sedangkan molekul ADN tunggal pada sel bakteri berukuran 1,4 mm.
5. Susunan Kimia Dari ADN
ADN merupakan susunan kimia makromulekular yang komplek yang terdiri dari 3 macam molekul yaitu:
1. Gula Pentosa, Yang dikenal sebagai deoksiribosa
2. Asam posfat
3. Basa Nitrogen yang dibedakan atas 2 tipe dasar yaitu:
• Pirimidin terdiri dari Sitosin dan Timin
• Purin terdiri dari Adenin dan Guanin
Pirimidin ( Sitosin dan Timin) dan Purin ( Adenin dan Guanin) membentuk rangkaian kimia dengan deoksiribosa.
6. Perbandingan basa nitrogen dalam ADN
Chargaff menemukan bahwa pengandungan ADN dari nucleus timus anak sapi terdiri dari 4 basa dengan perbandingan 28% adenine, 24% guanine, 20% sitosin, dan 28% timin. Sampel ADN yang di dapatkannya dari berbagai macam organisme hidup memperlihatkan pengandungan basa yang berlainan. Namun hukum ekuivalen chargaff yang dikemukakan dalam tahun 1950 menyatakan bahwa :
a. Jumlah purin adalah sama dengan jumlah piramidin (A+G=T+S)
b. Banyaknya adenine sama dengan banyaknya sitosin (G=S)
Perbedaan antara rasio AT/GS dari mikroorganisme dan makhluk tingkat tinggi itu memberi petunjuk bahwa ada perbedaaan informasi genetic yang dibawa oleh molekul herediter itu. Petunjuk tadi tentu mempunyai arti sangat penting untuk keperluan filogeni,evolusi,dan taksonomi.

7. konstruksi model molekul ADN
Orang yang pertama-tama mengemukakan gagasan tentang struktur 3 dimensional dari ADN adalah W.T.Astbury tahun 1940 berdasarkan hasil studi kristalografi sinar x dari molekul ADN. Ia mengambil kesimpulan bahwa karena ADN itu sangat padat, maka polinukleotida yang menyusunnya berupa timbunan nukleotida pipih, yang masing-masing teratur tegak lurus terhadap sumbu memanjang dan tiap-tiap nukleotida itu mempunyai jarak 3,4 amstrong (A)
Berdasarkan foto yang diambil oleh Franklin, Watson & Crick dlm bln April 1953 mengambil keputusan bahwa:
1. Deretan Polinukleotida ADN mempunyai bentuk sbg spiral teratur
2. Spiral itu mempunyai diameter kira-kira 20Å & lebar spiral tetap
3. Spiral itu membuat satu putaran lengkap setiap 34Å & jarak internukleotida 3,4Å, maka tiap putaran lengkap terdiri dari 10 nukleotida
4. Mengingat bahwa molekul ADN sangat padat, maka spiral ADN tentu duplex, yang mengandung 2 deretan polinukleotida
8. Model struktur ADN
Menurut Watson dan crick molekul ADN itu berbentuk sebagai dua pita spiral yang saling berpilin (double helix). Dibagian luar terdapat deretan gula-fosfat (yang berbentuk tulang punggung dari double helix). Dibagian dalam dari double helix terdapat basa purin dan pirimidin.
Dua polinukleotida yang berhadapan dihubungkan oleh atom hydrogen, yaitu antara pasangan purin dan pirimidin tertentu. Adenine hanya dapat berpasangan dengan timin yang hanya dihubungkan oleh dua atom H sedangkan guanine hanya dapat berpasangan dengan sitosin yang dihubungkan oleh tiga atom H. jadi dua deretan nukleotida dalam satu deret mendikte urutan nukleotida dari deret pasangannya.
9. Denaturasi dan Renaturasi ADN
Dua buah pita polinukleotida yang berbentuk double helix dalam molekul ADN itu dihubungkan oleh atom H yang sangat lunak. Jika suatu larutan yang mengandung ADN dipanaskan atau dibubuhi alkali yang kuat, maka hubungan hydrogen itu menjadi labil dan putus. Dua pita spiral dari molekul ADN itu membuka. Proses ini dinamakan Denaturasi ADN. Jika larutan tersebut kemudian di dinginkan kembali atau dinetralisir secara perlahan-lahan, maka terbentuklah pasangan-pasangan itu kembali. Peristiwa ini disebut Renaturasi ADN.

10. Replikasi ADN
Sebagai pembawa genetic ADN memiliki dua fungsi yang amat penting ialah
1. Fungsi Heterokatalis, yaitu karena ADN langsung dapat mensintesa molekul kimiawi lainnya
2. Fungsi Autokatalitis, yaitu karena ADN dapat mensintesa dirinya sendiri
Berdasarkan pengamatan diduga ada 3 kemungkinan cara replikasi molekul ADN, yaitu :
1. Semikonserpatip yaitu : dua pita spiral dari double helix memisahkan diri. tiap pita tunggal dari double helix parental ini berlaku sebagai pencetak (model) untuk membentuk pasangan yang baru,
2. Konserpatip yaitu : double helix parental tetap utuh, tetapi keseluruhannya dapat mencetak double helix baru.
3. Dispersip yaitu : kedua buah pita dari double helix terputus-putus .segmen-segmen ADN parental dan segmen-segmen ADN yang dibentuk baru saling bersambungan dan menghasilkan dua double helix baru.
B. Asam Ribonukleat (ARN)
Disamping ADN, kebanyakan sel-sel berinti tidak sejati (prokariotik) maupun berinti sejati (eukariotik) memiliki asam nukleat lain yang sangat penting pula, yang dinamakan asam ribonukleat (ARN).
1. Pengertian
Asam ribonukleat merupakan senyawa bahan genetik dan memainkan peran utama dalam ekspresi genetik. RNA menjadi perantara antara informasi yang dibawa DNA dan ekspresi fenotip yang diwujudkan dalam bentuk protein.
2. Struktur RNA
Struktur dasar RNA mirip dengan DNA. RNA merupakan polimer yang tersusun dari sejumlah nukleotida. Setiap nukleotida memiliki satu gugus fosfat, satu gugus gula ribosa, dan satu gugus basa nitrogen (basa N). Polimer tersusun dari ikatan berselang-seling antara gugus fosfat dari satu nukleotida dengan gugus gula ribosa dari nukleotida yang lain.
Perbedaan RNA dengan DNA terletak pada satu gugus hidroksil tambahan pada cincin gula ribosa (sehingga dinamakan ribosa). Basa nitrogen pada RNA sama dengan DNA, kecuali basa timin pada DNA diganti dengan urasil pada RNA Jadi tetap ada empat pilihan: adenin, guanin, sitosin, atau urasil untuk suatu nukleotida.
Selain itu, bentuk konformasi RNA tidak berupa pilin ganda sebagaimana DNA, tetapi bervariasi sesuai dengan tipe dan fungsinya.

3. Fungsi RNA
Pada sekelompok virus (misalnya bakteriofag), RNA merupakan bahan genetik. Ia berfungsi sebagai penyimpan informasi genetik, sebagaimana DNA pada organisme hidup lain. Ketika virus ini menyerang sel hidup, RNA yang dibawanya masuk ke sitoplasma sel korban, yang kemudian ditranslasi oleh sel inang untuk menghasilkan virus-virus baru.
Namun demikian, peran penting RNA terletak pada fungsinya sebagai perantara antara DNA dan protein dalam proses ekspresi genetik karena ini berlaku untuk semua organisme hidup. Dalam peran ini, RNA diproduksi sebagai salinan kode urutan basa nitrogen DNA dalam proses transkripsi. Kode urutan basa ini tersusun dalam bentuk ‘triplet’, tiga urutan basa N, yang dikenal dengan nama kodon. Setiap kodon berelasi dengan satu asam amino (atau kode untuk berhenti), monomer yang menyusun protein.
Penelitian mutakhir atas fungsi RNA menunjukkan bukti yang mendukung atas teori ‘dunia RNA, yang menyatakan bahwa pada awal proses evolusi, RNA merupakan bahan genetik universal sebelum organisme hidup memakai DNA.
Pembagian Asam deoksiribonukleat yaitu sebagai berikut :
• ARN Genetik
ARN Genetik merupakan suatu polimer asam nukleotida yang yang memebawa molekul genetik. Sebagai bahan genetik, RNA berwujud pita tunggal atau pita dobel tetapi tidak terpilin seperti molekul ADN.
Beberapa virus tumbuhan (misalnya virus mozaik tembakau, virus mozaik kuning turnip, virus tumor lika dsb), virus hewan (misalnya virus influenza, virus kaki dan mulut, virus poliomyelitis, dsb) dan bakteriophag mempunyai ARN sebagai bahan genetik.
Seperti halnya ADN, ARN adalah suatu polimer asam nukleotida dari empat ribonukleotida. Tiap ribonukleotida terdiri dari gula pentosa (D-ribosa), molekul gugusan fosfat dan sebuah basa nitrogen. Ke empat ribonukleotida itu juga terdapat bebas di dalam nukleoplasma tetapi dalam bentuk tripospat dari ribonukleotida seperti adenosin trifosfat (ATP), guanosin tripospatn (GTP), sitidin tripospat (STP) dan uridin tripospat (UTP).

Struktur molekul ARN dapat berbentuk pita tunggal atu pita duoble, tetapi tidak berpilin sebagai spiral seperti molekul ADN. ARN bentuk pita tunggal terdapat sebagai bahan genetik pada virus tumbyuhan (seperti TMV, virus mozaik tembakau), virus hewan (seperti virus influenza, virus kaki dan mulut, virus rous sarcoma, virus poliomyelitis) dan bakteriophage.
Arn genetik dari virus mengadakan replikasi sendiri, artinya ARN ini menghasilkan sendiri replikannya (hasil replikasi). Berhubung dengan itu dinamakan sintesa ARN bergantung-ARN.
• ARN Non-Genetik
Berdasarkan tempat terdapatnya serta fungsi dapat dibedakan atas 3 macam ARN, yaitu:
1. ARN duta (ARNd).
ARNd berbentuk pita tunggal, terdapat di dalam nukleus dan dicetak oleh ADN dalam prose transktripsi.
2. ARN pemindah (ARNp)
Menurut R. Holley, molekul ARNp dibuat juga di dalam nukleus, sebelum menempatkan diri di dalam sitoplasma. Beberapa sifat molekul ARNp yaitu:
• Semua molekul ARNp mengandung urutan terminal yang sama dari basa 5’-SSA-3’ pada akhir 3’ dari deretan polinukleotida.
• Semua ARNp mempunyai bagian menukik yang merupakan bulatan, yang disebut lengan T dimana terdapat 7 basa tak berpasangan termasuk psudouridin.
• Semua molekul ARNp mempunyai lengan DHU (dihidrouridin) yang mengandung 8-12 basa tak berpasangan.
• Ada bagian yanh mengandung 3 basa, yang ada pada ARNp tetentu berbeda susunannya daripada di ARNp lainnya.
• Beberapa ARNp yang berupa pita panjang dapat mempunyai lengan tambahan pendek.
3. ARN Ribosom atau disingkat ARNr (”ribosomal RNA”)
ARNr terutama terdapat di dalam ribosom, meskipun dibuat di dalam nukleus. Molekulnya berupa pita tunggal, tak bercabang dan fleksibel. Ada yang bercabang dan fleksibel. Ada bagian dimana basa-basa komplementer membentuk pasangan-pasangan. Fungsi molekul ARNr sampai sekarang masih sedikit diketahui, tetapi diduga mempunyai peranan penting pada sintesa protein.

C. KODE GENETIK
Sebuah pita molekul ADN terdiri dari tiga persenyawaan kimia, yairu asam pospat, gula deoksiribosa, dan basa nitrogen. Sarabai dan kawan-kawan (1964) membuktikan bahwa urutan basa nitrogen dari suatu segmen molakul ADN itu identik dengan urutan linear dari asam-asam amino di dalam molekul protein. Empat basa ADN itu (A, T, S, dan G) dapat dianggap sebagai alfabhet dalam molekul ADN.
Para biologiwan molekular mengambil kesimpulan bahwa informasi genetik yang terdapat dalam molekul ADN itu harus berupa bahasa istimewa yang berbentuk kata-kata kode dengan menggunakan empat alfabet ADN itu. Setiap pesan genetik yang dinyatakan dalam bentuk kode umumnya dinamakan kriptogram.
Kode genetik yang paling sederhana adalah kode singlet, dimana sebuah nukleotida memberi kode untuk sebuah asam amino. Mengingat adanya 20 macam asam amino, maka baru 4 macam asam amino saja yang dapat diberi kode berarti bahwa 16 macam asam amino belum dapat duberi kode.
Kode dublet (yaitu suatu kode yang terdiri dari dua huruf) juga belum cukup, karena baru dapat memperinci 4 x 4 = 16 macam asam amino saja, sehingga masih ada 4 macam asam amino yang belum dapat diberi kode
Kode triplet (suatu kode yang terdiri dari tiga huruf) akan menghasilkan 4 x 4 x 4 = 64 kodon, sehingga dapat memperinci 64 asam amino. Begitu pula waktu ia menerapkan tambahan sebuah tambahan atau dua buah begitu pula waktu ia menerapkan tambahan sebuah atau dua buah nukleoitida pada kode triplet. Berdasarkan hasil eksperimen ini di ambil kesimpulan, bahwa kode genetik haruslah dalam bentuk kode triplet. Beberapa sifat dari kode triplet ialah:
1. kode genetik ini memiliki banyak sinonim, sehingga hampir semua asam amino dinyatakan oleh lebih dari sebuah kodon.
2. tidak ada tumpang tindih, artinya tiada satu basa tunggalpun yang dapat mengambil bagian dalam pe,bentukan lebih dari satu kodon, sehingga 64 kodon itu semua bebrbeda-beda nukleotidanya.
3. kode genetik dapat mempunyai dua arti, yaitu kodon yang sama dapat memperinci lebih dari satu asam ammino.
4. kode genetik tidak mempunyai tanda untuk menarik perhatian, artinya tiada sebuah kodon pun yang dapat di beri tanbahan tanda bacaan.
5. kodon AUG disebut juga kodon permulaan karena kodon ini memulai sintesa rantai polipeptida.
6. beberapa kodon dinamakan kodon non-sens (tak berarti) karena kodon-kodon ini tidak merupakan kode untuk salah satu asam amino pun misalnya UAA, UAG, UGA
7. kode genetik itu ternyata universal, karena kode yang sama berlaku untuk semua macam makhluk hidup.

REFERENSI:

1. Anonim. Wikipedia Indonesia. Asam Deoksiribonukleat. Tahun 2005. Diakses pada tanggal 21 April 2008 online http://groups.or.id/wikipedia/id/a/s/a/asam.deoksiribonukleat.htm.
2. Anonim. Wikipedia Indonesia. Asam Ribonukleat. Tahun 2005. Diakses pada tanggal 21 April 2008 online http://groups.or.id/wikipedia/id/a/s/a/asam.ribonukleat.htm.
3. Sartian eva. 2005. Pewarisan Bahan Genetik di Luar Nukleus. Universitas Sumatra Utara.
4. Suryo. 1984. Genetika Strata 1. Gaja Mada University Press: Yogyakarta.
5. Roberts, Fraser. 1995. Pengantar Genetika Kedokteran. EGC: Jakarta.