FAKTOR RISIKO KEJADIAN KEKAMBUHAN GANGGUAN JIWA SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH (RSKD) DADI SULAWESI SELATAN TAHUN 2009

Skizofrenia merupakan psikosis fungsional paling berat, dan menimbulkan disorganisasi personalitas terbesar, pasien tidak mempunyai realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal. Di Indonesia, sekitar 1% – 2% dari total jumlah penduduk mengalami skizofrenia yaitu mencapai 3 per 1000 penduduk, prevalensi 1,44 per 1000 penduduk diperkotaan dan 4,6 per 1000 penduduk dipedesaan berarti jumlah penyandang skizofrenia 600.000 orang produktif.

Penelitian bertujuan mengetahui risiko kejadian kekambuhan meliputi umur, jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan, keturunan, dan keteraturan minum obat. Jenis penelitian observasional analitik rancangan studi kasus kontrol. Populasi adalah penderita gangguan jiwa skizofrenia yang kambuh dan tidak kambuh yang dirawat. Kasus adalah penderita skizofrenia yang mengalami kekambuhan (rehospitalisasi) atau rawat inap sedangkan kontrol adalah penderita skizofrenia yang tidak mengalami kekambuhan atau dirawat jalan sehingga sampel sebanyak 150 orang, informasi diperoleh dari keluarga penderita. Kontrol dipilih dengan metode simple random sampling.

Hasil penelitian adalah umur sebagai faktor protektif bermakna, maka semakin tua umur kemungkinan untuk mengalami kekambuhan semakin rendah. Jenis kelamin dan keturunan tidak memiliki risiko bermakna terhadap kejadian kekambuhan gangguan jiwa skizofrenia. Pekerjaan sebagai faktor protektif bermakna, maka penderita memiliki pekerjaan sebagai aktifitas rutin mencegah kekambuhan akan lebih rendah daripada penderita tidak memiliki pekerjaan. Status perkawinan merupakan faktor risiko kekambuhan, maka penderita belum menikah atau cerai mempunyai risiko 2,074 kali lebih besar menderita kambuh daripada responden telah menikah. Keteraturan minum obat merupakan faktor risiko kekambuhan, maka penderita tidak teratur minum obat mempunyai risiko 3,419 kali lebih besar menderita kambuh daripada teratur minum obat.

Disarankan perlunya keluarga memberikan perhatian kepada penderita skizofrenia untuk memberikan dorongan semangat agar dapat normal tetapi tidak sembuh sepenuhnya, pemberian pengetahuan mengenai public health nursing yang dapat dilakukan oleh anggota keluarga, pemberian obat antipsikotik sebaiknya tidak terputus ataupun terhambat hingga masa rehabilitasi penyembuhan dapat berjalan maksimal.

Daftar Pustaka : 40 (1989-2008)
Kata Kunci : Skizofrenia, Kekambuhan, Faktor Risiko
(xiii + 85 Halaman + 16 Tabel + 8 Lampiran)
Muliani Ratnaningsih, Rismayanti, Dian Sidik

1 Komentar (+add yours?)

  1. musdalifah
    Mei 11, 2011 @ 10:49:16

    tesis saya tentang relaps skizofrenia. yg saya ingin teliti adalah ttg stigma di masyarakat. nah.. ada ga skala ukurnya ttg stigma?? makasih sebelumnya..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: